Minggu, 23 April 2017

Pergeseran Nilai yang Mulai Terasa

Di zaman modern seperti sekarang ini, sudah hal lumrah melihat seseorang sibuk sendiri dengan ponselnya. Kalau boleh flashback ke zaman 90an, seseorang yang memiliki ponsel walaupun ponsel sekedar mampu untuk menelpon dan sms, bak seperti orang yang paling kekinian. Hal ini terjadi karena di zaman tersebut memang ponsel sangatlah langka.
Sikap gotong royong yang semakin jarang ditemukan, apalagi di perkotaan.
Disebabkan sedikitnya masyarakat yang memiliki ponsel pribadi, maka ketika seorang anak ingin mencari hiburan untuk bersenang-senang, sering datang ke rumah guna bermain bersama. Kadang main bola hujan-hujanan, berenang di sungai, dan lain sebagainya. Pada intinya, di zaman dahulu itu segala permainan itu selalu dilakukan secara bersama.
Berbeda dengan saat ini, seorang anak cukup membeli atau minta belikan ponsel canggih kepada orangtuanya saja sudah bisa bersenang-senang. Belum lagi saat ini sudah bejibun aplikasi, game yang tersedia di Playstore maupun Appstore. Oleh karena kesenangan sudah bisa didapat dengan cara sendirian, mengakibatkan seseorang menjadi lupa dengan sesama.
Anak zaman sekarang lebih mementingkan ponsel yang berdering dibandingkan saling bercengkrama dengan temannya
Secara kasat mata, dapat kita maknai bahwa saat ini sudah sangat nampak pergeseran nilai. Nilai yang mulai tergerus adalah nilai kebersamaan, nilai gotong royong, nilai saling tolong-menolong, dan nilai lainnya. Nilai yang telah disebutkan tadi berubah menjadi nilai kesendirian, nilai acuh tak acuh dan nilai agresif karena tidak suka diganggu ketika kesenangannya diganggu.
Tentu hal ini cukup memperihatinkan bagi kaum muda kita, lebih-lebih bangsa ini. Kita sudah bisa mengetahui bersama bahwa bangsa kita merupakan bangsa yang ramah, suka tolong menolong terhadap sesama, memiliki toleransi yang baik. Jangan sampai oleh karena modernisasi justru dapat merusak bibit muda yang akan melanjutkn estafet pengelola negeri ini.
Bibit muda yang tercemar dengan nilai yang buruk, dikhawatirkan dapat berimbas kepada kemunduran negeri ini. Oleh karena itu, diperlukan langkah preventif atau pencegahan dengan tidak mengonsumsi akses modernisasi dengan bebas nilai. Dengan kata lain, seseorang hendaknya memanfaatkan modernisasi dengan bijak, efisien, dimana modernisasi hanya digunakan di saat diperlukan saja, tidak malah diperbudak olehnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar